![]() |
| Sumber: The Jakarta Globe |
Pagi ini saya mendengar bahwa pendukung pak Prabowo akan mencapai jumlah 50 ribu orang, dan pasukan polisi dan TNI akan berjumlah 20 ribu orang. Setelah mendengar ini, adakah kejanggalan di telinga kita? Kalau saya, saya lansung berpikir, "Mereka mau perang ya?" Sudah jelas bahwa jumlah orang sebanyak apapun tidak akan mengubah keputusan Mahkamah Konstitusi. Tidak mungkin kan 9 hakim MK akhirnya memenangkan pihak pak Prabowo dengan menerima gugatan-gugatannya karena mereka takut akan dikeroyok?
"Yah, mungkin mereka ingin membuat kerusuhan." Kerusuhan? Mana mungkin pak Prabowo menyuruh pendukungnya untuk merusak nama baiknya sendiri. Tetapi, jalan pikir ini sudah benar bahwa sebenarnya ada alasan terselubung yang tidak kita ketahui dan pahami.
Siapa sih pak Prabowo itu? Beliau adalah mantan Komandan Jenderal Kopassus. Wow! Komando Pasukan Khusus! Dari namanya aja yang menyebutkan "khusus" sudah memberikan kita penjelasan bahwa orang-orang Kopassus ini bukan orang-orang sembarangan. Apalagi kalo orang itu pernah mempunyai pangkat Komandan Jenderal.
Pastinya sudah pernah nonton film-film perang kan? Biasanya film-film perang itu juga diceritakan bagaimana pemimpin-pemimpin mereka menyiasati jalan perang yang akan mereka lakukan. Sering kali kita dibuatnya terkesima saat menonton karena strategi-strategi perang mereka yang sangat bagus dan pintar yang mengakibatkan pihak musuh kalah ataupun harus mengalami kerusakan yang parah. Kembali ke topik, apakah mungkin pak Prabowo yang bekas Komandan Jenderal ini melakukan gerakan-gerakan yang selama ini dia lakukan dengan asal-asalan atau tanpa siasat?
Saya pikir sejak awal dia menggugat adanya kecurangan di pilpres 2014 kemaren, dia juga sudah tahu bahwa dia tidak akan menang di jalur hukum. Manusia waras mana sih yang yakin akan menang dengan menyajikan bukti-bukti yang tidak berdasarkan hukum yang berlaku? Saksi-saksi yang didatangkan pun kebanyakan hanya komat-kamit tanpa tujuan yang jelas. Tapi sampai saat ini, dia masih berpikir kalau dia akan menang. Kenapa?
Menurut saya, pak Prabowo ini mengajukan gugatannya ke MK bukanlah karena dia yakin bahwa dia akan dimenangkan di sana, melainkan untuk menarik perhatian rakyat Indonesia secara keseluruhan, dan juga memobilisasi pendukungnya. Semakin banyak perhatian yang ditujukan kepadanya, semakin serius masalahnya menjadi terlihat (walaupun dari bukti tertulis dan saksi-saksi mereka yang terlihat hanyalah bercandaan). Bila masalah sudah terlihat sangat serius, dan pendukung-pendukungnya sudah banyak yang bergerak, maka setengah siasatnya sudah terjalankan. Setengahnya lagi? Ya tentu saja aksi menggulingkan pemerintahan.
Kenapa bisa berpikiran begitu? Coba kita lihat lagi lebih ke belakang. Sebelom perhitungan suara, kubu Prabowo mengeluarkan quick count-nya melalui TV One yang menyatakan bahwa pihak mereka menang. Walau pun lembaga-lembaga lain yang lebih kredibel sudah menyatakan bahwa kubu nomer dua yang menang, mereka tetap bersikeras bahwa nomer yang mereka suarakan adalah benar sebenar-benarnya. Mereka sungguh terlihat tegas dan meyakinkan bahwa mereka akan memenangkan pilpres itu. Tentu saja dengan sikap yang demikian, orang-orang khususnya pendukung pak Prabowo ini menjadi percaya bahwa memang benar rakyat Indonesia lebih banyak yang mendukung pemimpinnya itu.
Nah, seperti yang kita lihat, mereka tetap kalah. Itu bukan suatu yang mengagetkan bagi kubu pak Prabowo ini. Karena semua yang mereka lakukan selama itu adalah untuk mempersiapkan apabila mereka harus kalah dalam perhitungan akhir Komisi Pemilihan Umum. Dengan alibi bahwa terjadi kecurangan dalam perhitungan atau pengumpulan suara oleh KPU, pak Prabowo mengajukan gugatan ke MK untuk menindak lanjuti perkara itu. "Tapi kalau cuman ngomong doank, berarti sebenarnya ga ada hal-hal yang bisa memenangkan mereka di MK donk?" Memang benar. Maka karena itu pak Prabowo menyuruh bawahannya untuk membuat (baca: menciptakan) bukti dan mencarikan saksi-saksi sebanyak mungkin. "Lah, untuk apa toh juga udah tau bakalan kalah juga?"
Seperti yang saya katakan sebelumnya, pak Prabowo dari awal tidak ada niat untuk memenangkan gugatannya di MK. Kalau menang ya bagus. Namun yang dia siasati itu adalah bagaimana ketika dia kalah. Dengan pendukungnya yang sangat banyak itu dan juga mereka yang sudah dicuci otaknya dan percaya bahwa memang terjadi kecurangan akan dirinya yang akhirnya membuat dia kalah di dalam pilpres 2014, pak Prabowo menginginkan agar pendukungnya berpikir bahwa negara ini sudah bobrok bila MK menolak gugatannya. Kita sebenarnya sudah berulang kali mendengar poin ini secara tidak lansung di dalam ceramah-ceramahnya pak Prabowo selama ini, seperti cara ngomongnya, "lebih baik mati dari pada harus tunduk bla bla bla..."
"Terus apa donk gunanya membawa pendukung sebanyak 50 ribu ke ibu kota?"
Kerusuhan yang ditimbulkan oleh pendukungnya tidak akan membawa keuntungan baginya, dan dia pasti sudah tau itu. Namun, bagaimana bila sebenarnya pihak polisi atau tentara yang memulai kerusuhan itu? Ini lah yang saya pikir menjadi target pak Prabowo selama ini, yaitu memecah belah kesatuan bangsa. Malam itu (21 Agustus 2014), pak Prabowo menjenguk pendukung-pendukungnya yang terluka saat aksi unjuk rasa pada siang hari itu, dan mengatakan akan melaporkan insiden itu ke DPR. "Lah, memang pendukungnya aja koq yang cari masalah pake terobos barisan aparat keamanan." Itu kan kita sebagai pihak yang berpikir dengan kepala dingin. Di pihak mereka, kejadian itu adalah titik di mana para aparat sudah menginjak-injak keadilan dan tidak peduli lagi dengan rakyatnya.
Bila pak Prabowo berhasil menanamkan ide ini di seluruh kepala pendukungnya, maka dia akan mendapatkan alasan yang kuat untuk bergerak dan menggulingkan pemerintahan.
Bersiaplah. Berhati-hatilah.
